TENTANG MENUNTUT ILUM DAN KEDUDUKAN
ILMUWAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seorang ibu berpesan bijak kepada anak kesayangannya yang cacat fisik, Anakku,
engkau tidak berada di majlis suatu kaum melainkan engaku menjadi bahan ejekan
dan tertawaan mereka, oleh karena itu, carilah ilmu, karena ilmu mengangkatmu.”
Pesan sang ibu tidak meleset, karenga dikumudain hari si anak yang tidada lain
adalah Muhammad bin Abdurrahman al-Auqosh menjadi hakim di mekah selama dua
puluh tahun.
Sang ibu tidak salah ucap, karena memang begitulah kenyataannya. Ilmu memang
membuat orang menjadi mulia. Ilmu itu menjaga pemiliknya, demikian kata Ali bin
Abu thalib R.A.
“Denganya, Allah mengangkat suatu kaum, kemudian Allah menjadikan mereka
sebagai pemimpin dalam hal yang baik dan sebagai suri tauladan bagi oeng lain.
Mereka adalah penunjuk bagi dan kepada kebaikan. Jejak mereka ditapaktilasi .”
kata Muadz bin Jabal R.A.
B. RUMUSAN MASALAH
Dengan ilmu, kita tidak menjadi makhluk “telanjang” abadi seperti hwan, terlapisi
keindahan fisik dan psikis, menjadi manusia bermutu, mampu bersaing dengan
makhuluq alin, dapat mengungkap rahasia dan pesan-pesan Allah yang ada dalam
kitab-Nya dan di alam semersa, kita dapat menjadi hamba Allah yang mulia, dapat
menjadi umat yang berjaya atas makhluk yang lain seperti proyeksi awal Allah
menciptakan kita.
C. TUJUAN
Berangkat dari kerangka di atas, dan memperhatikan
ralita keterpurukan kaum muslimin dewasa ini, kami mencoba mengupas ayat
ilmu pengetahun, dengan harapan makalah ini sedikit banyak dapat menyadarkan
kelengahan kita selama ini, mengangkat harkat dan martabat di sisi Allah dan
makluk lain dan mengembalikan kita ke posisi semula sebagai “khalifah allah” di
muka bumi.
BAB II
PEMBAHASAN
I. MENUNTUT ILMU
AL-‘ALAQ 1-5
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) [العلق/1-5]
A. TERJEMAH
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[[1]],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
B. MUNASABATUL AYAT
Setelah pada surat sebelumnya disebutkan bahwa manusia
diciptakan dalam keadaan yang sempurnya ( أًحْسَنِ
تَقْوِيْم )
kemudian dalam surat ini disebutkan kejadian manusia dari segumpal darah sampai
pada akhirnya disini di bahas keadaan manusia di akhirat.
C. ASBABUN NUZUL
Disebutkan bahwa Nabi S.A.W.
beribadah dalam gua Hira beberapa malam, kemudain turunlah ayat ini. Lima ayat
ini deisepakati turun di makah sebelum Nabi S.A.W. hijrah, bahkan hampir semua
ulama sepakat bahwa wahyu yang pertama diterima Nabi S.A.W. adalah lima ayat
ini, Thahir Ibnu Asyur menyatakan bahwa lima ayat ini turun pada tanggal tujuh
belas ramadhan dan hal ini banyak di ikuti oleh ulama.
Nama yang populer pada masa sahabat
adalah surat iqra’ bismirabbika, dan nama yang banyak tercantum dalam mushaf
adalah al-Alaq’ ada juga yang menamainya dengan surah iqra’.
D. PEMBAHASAN
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
a. Tafsir Mufrodat :
Kata (اقْرَأْ ) terambil dari kata kerja ( قَرَأَ
) yang pada mulanya berarti
menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan
rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan
demikian realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya
suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga
terdengan oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus ditemukan aneka ragam arti
dari kata tersebut. Antara lain : menyampaikan, menelaan, membaca, mendalami,
meneliti, mengaetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya, yang kesemuanya bermula
dari arti menghimpun.
Ayat di atas tidak menyebutkan objek
bacaan - dan jibril AS. ketika itu tidak juga membaca suatu teks tertulis, dan
karena itu dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Nabi S.A.W. bertanya : ( مَا
أَقْرَأُ ) apa yang harus saya baca
?
b. Penjelasan:
Beraneka ragam pendapat ahli tefsir
tentang objek bacaan yang dimaksud, ada yang berpendapat wahyu (al-Qur’an)
sehingga perintah itu dalam arti : “bacalah wahyu-wahyu (al-Qur’an)” ketika dia
turun nanti. Ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah ismi robbika sambil
menilai huruf ba’ yang menyertai kata kata ismi adalah sisipan sehingga ia
berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Tapi jika demikian mengapa Nabi
S.A.W.menjawab “ saya tidak dapat membaca “ seandainya yang dimaksud perintah
berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu
beliau senantiasa melakukannya.
Muhammad Abduh memahami peritah
membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklif)
sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amar takwini yang mewujudkan
kemampuan membaca secara actual pada diri pribadi Nabi Muhammad S.A.W. pendapat
ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah ini pun Nabi S.A.W.
masih tetap dinamai oleh al-Qur’an sebagai seorang Ummy (tidak pandai membaca
dan menulis), di sisi lain jawaban Nabi S.A.W. kepada malaikat jibril ketika
itu, tidak mendukung pemahaman itu.
Huruf ( ب ) pada kata (بِاسْمِ ) ada juga yang memahaminya sebagai pernyertaan atau mulabasah,
seingga dengan demikian ayat tersebut berarti “bacalah disertai dengan nama
Tuhanmu”.
Sementara ulama memahami kalimat bismi
rabbika bukan dalam pengertian harfiahnya, sudah menjadi kebiasaan
masyarakat sejak masa jahiliah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu
yang mereka agungkan. Itu memberi kesan yang baik atau katakanlah “berkat”
terhadap epkerjaan tersebut juga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tadi
dilakukan semata-mata karena “dia” yang namanya disebutkan tadi. Dahulu,
misalnya sebelum turunnya al-Qur’an, kaum musyrikin sering berkata “bismi
al-lata” dengan maksud bahwa apa yang mereka lakukan tidak kecuali demi
tuhan berhala al-lata, dan bahwa mereka mengharapkan anugrah dan berkah” dari
berhala tersebut.
Mengaitkan pekerjaan membaca dengan
nam Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah,
dan hal ini akan mengahsilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi
dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa
keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan (baca
Q.S. al-Furqon 25).
Menurut Syaikh al-Maroghi, اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ adalah jadilah kamu orang yang bisa membaca dengan kekuasaan
Allah Tuhan penciptamu dan menginginkan kamu bisa membaca walaupun sebelumnya
tidak, yang sesungguhnya saat itu Nabi S.A.W. tidak bisa baca tulis, dan telah
datang perintah Ketuhanan bahwa Nabi S.A.W. hendaknya bisa membaca walaupun
tidak bisa menulis dan akan diturunkan kepadanya al-Quran yang akan dia baca
walaupun dia tidak menulisnya. Ringkasnya adalah Allah yang telah menjadikan
alam semesta mampu menjadikan Nabi S.A.W. bisa membaca walaupun tidak didahului
dengan belajar.
C. Kesimpulan
Menurut kaidah kebasaan menyatakan
apabila ada suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan
objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena itu bahwa kata iqro’
digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya, dan
objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut segala yang dapat terjangkau
baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia
menyangkut ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Al hasil perintah iqro’mencakup
telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis
baik suci maupun tidak.
Ayat ini menegaskan supaya kita bisa
membaca.
خَلَقَ
الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
2. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah.
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْإِنْسَانَ terambil dari akar kata أنس, jinak dan harmonis atau dari kata نسي yang berarti lupa, ada juga yang berpendapatberasal dari kata نوس yakni gerak atau dinamika.
Makna di atas paling tidak
memberikan gambaran sepintas tentang potensi atau sifat makhluk tersebut, yakni
bahwa memiliki sifat lupa, dan kemampuan bergerak atau melahirkan dinamika.
Ia juga adalah makhluk yang selalu
atau sewajarnya melahirkan rasa senang, harmonisme dan kebahagiaan kepada pihak
lain.
B. Penjelasan
Kata insan menggambarkan manusia
dengan berbagai keragaman sifatnya, kata ini berbeda dengan kata basyar
yang juga diterjemahkan dengan manusia, tetapi maknanya lebih banyak mengacu
kepada manusia dengan segi fisik serta nalurinya yang tidak berbeda antara
seseorang manusia dengan mansia lain.
Manusia adalah makhluk pertama yang
disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia
diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam
raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga
karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita
kehidupannya.
Salah satu cara yang ditempuh oleh
al-Qur’an untuk menghantar manusia menghayati pentunjuk Allah adalah
memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya.
Ayat ke 2 surat iqro’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.
Kata ‘alaq dalam kamus bahasa
arab digunakan dalam arti segumpal darah, juga dalam arti cacing yang terdapat
di dalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut di kerongkonganya.
Banyak ulama masa lampau memahami ayat di atas dalam pengertian pertama. Tetapi
ada juga yang memahaminya dalam sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Ini
karena para pakar embriolog menyatakan bahwa setelah terjadinya pertemuan
antara seperma dan indung telur ia berproses dan membelah menjadi dua, kemudian
empat, kemudian delapan demikian seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong
kehamilan dan melekat bertempat serta masuk ke dinding rahim.
C. Kesimpulan
Dari ayat 2 ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa salah satu yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar
manusia menghayati petunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya dengan
menguraikan proses kejadiannya, karena kata ‘alaq bisa juga dipahami
sebagai makhluk sosoial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bergantung
pada selainnya, ini serupa dengan firman Allah خُلِقَ
الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ [الأنبياء/37] (Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.)
اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْأَكْرَمُ biasa diterjemahkan dengan yang maha atau paling pemurah atau
semulia-mulia. Kata ini terambil dari kata كرم yang antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa
pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia dan sifat kebangsawanan.
B. Penjelasan
Dalam al-Qur’an ditemukan kata karim
terulang sebanyak 27 kali. Tidak kurang dari 13 subjek yang disifati dengan
kata tersebut, yang tentu saja berbeda-beda maknanya dan karena itu pada akhirnya
dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat terpuji
yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Ucapan yang karim adalah
ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah
dipahami cara menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh
pembicara. Sedang rizki yang karim adalah yang memuaskan, bermanfaat
serta halal.
Allah menyandang sifat karim menurut
imam al-Ghozali sifat ini menunjuk kepadanya yang mengandung makna antara lain
bahwa : Dia yang bila berjanji menepati janjinya, bila memberi melampoi batas
memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang dimohonkan kepada
selain-Nya. Dia yang bila atau kecil hati, menegur tanpa berlebih, tidak
mengabaikan siapapun yang menuju yang berlindung kepada-Nya, dan tidak
membutuhkan sarana atau perantara.
Ibn al-Arabi menyebut 16 makna dari
sifat Allah ini antara lain : yang disebut oleh al-Ghozali di atas, dan juga “
Dia yang bergembira dengan diterima anugrahnya, serta yang memberi sambil
memuji yang diberinya, Dia yang memberi siapa yang mendurhakainya, bahkan
memberi sebelum diminta dan lain-lain.
Kata al-Karim yang menyifati Allah
dalam al-Qur’an kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata Robb bahkan
demikian juga kata akrom sebagaimana terbaca di atas. Penyifatan kata Robb
dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugrah kemurahannya
dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan,
Pemeliharaan dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar
dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai makhluk, kita dapat
menjangkau betapa besar karom Allah S.W.T. karena keterbatasan kita
dihadapannya. Namun demikian sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut
: “ bacalah wahai Muhammad, tuhanmu akan menganugrahkan dengan sifat
kemurahannya pengetahuan tentang apa yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan
ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaannya sama, niscaya tuhanmu kan
memberikan pandangan serta pengertian baru yang tadinya belum engkau belum
peroleh pada bacaan yang sama dalam objek tersebut.” “Bacalah dan ulangi
bacaan, tuhanmu kan memberi manfaat kepadamu, manfaat yang tidak terhingga
karena dia akrom, memiliki segala macam kesempurnaan.”
C. Kesimpulan
Disini kita dapat melihat perbedaan
antara perintah membaca pada ayat pertama dan ke tiga, yakni yang pertama
menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca (dalam segala
pengertian) yaitu membaca demi karena Allah, sedang perintah yang ke dua
menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan bahkan pengulangan bacaan
tersebut.
Dalam ayat ke tiga ini Allah
menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah maka
Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru
walaupun yang dibacanya itu-itu juga. Apa yang dijanjikan ini terbukti sangat
jelas. Kegiatan “membaca” ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru atau
pengembangan dari pendapat yang telah ada. Demikian juga kegiatan membaca alam
raya ini telah menimbulkan penemuan baru yang membuka rahasia alam, walaupun
objek bacaanya itu-itu juga. Ayat al-Qur’an yang dibaca oleh generasi terdahulu
dan alam raya yang mereka huni adalah sama-tidak berbeda, namun pemahaman
mereka serta penemuan rahasianya terus berkembang.
الَّذِي
عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
A. Tafsir Mufrodat
Kata الْقَلَمِ terambil dari kata kerja قلم yang berarti memotong ujung sesuatu. Memotong ujung kutu
disebutتقليم , tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai مقالم.
B. Penjelasan
Kata qolam disini dapat
berarti hasil dan penggunaan alam tersebut, yakni tulisan, ini karena bahasa,
sering kali menggunkan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat
atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika
seseorang berkata “ saya hawatir hujan” maka yang dimasud dengan kata hujan
adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.
Makna di atas dikuatkan oleh firan
Allah dalam surat al-Qolam (68):1, yakni firmannya “ Nuun, demi qolam dan apa
yang mereka tulis”. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal
surat al-Qolam turuns setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti
dari segi masa turunnya ke dual kata qolam tersebut berkaitan erat, bahwan
bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikain.
Pada ke dua ayat di atas terdapat
apa yang dinamai ikhtiba’ yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu
keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan,
karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat
4 kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat
5 kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah disyaratkan
ma’na itu dengan sebutkan pena. Dengan demikian kedua ayat di atas dapat
berarti “ Dia(Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah
diketahui sebelumya). Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum
diketahui sebelumnya. Kalimat “ yang telah diketahui sebelumnya disisipkan
karena isyarat pada susunan kedua yaitu yang belum atau tidak diketahui
sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena ada kata “ dengan
pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “ telah diketahui
sebelumnya adalah khozanah pengetahuan sebelumnya dalam bentuk tulisan.
C. Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat
menyimpulkan bahwa kedua uraian di atas menjelaskan dua cara yang ditempuh
Allah S.W.T. dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena atau tulisan yang
harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung
tanpa alat.
Pada awal surat ini Allah telah
mengenalkan diri sebagai yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha pemurah.
Pengetahuan-Nya melimputi segala sesuatu, sedangkan karom atau
kemurahan-Nya tidak terbatas, sehingga dia berkuasa dan berkenan untuk mengajar
manusia dengan atau tanpa pena.
Wahyu Ilahi yang diterima oleh
manusia agung dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya.
Tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammad S.A.W. dijanjikan oleh Allah
dalam wahyunya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.
E. PELAJARAN YANG DAPAT DI AMBIL
1. Ayat 1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan,
Ayat pertama ini mengandung arti bahwa :
a. Ummat Islam seharusnya pandai baca
tulis
b. Ummat Islam harus antusias membaca
dan meneliti, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan
c. Perintah m embaca ini meliputi yang
tersurat (Al-Qur’an) dan yang tersirat (Alam semesta)
2. Ayat 2
Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah.
Manusia disebut khusus dalam ayat ini,
karena manusia manusia diberi kedudukan istimewa, dengan tubuh, panca indera,
akal dan hati yang sempurna. Alaqah adalah zygote yang sudah menempel di rahim
ibu, yang secara phisik tidak ada artinya dan lemah dan labil karena
sewaktu-waktu dapat gugur dari rahim ibunya.
3. Ayat 3
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah,
Perintah membaca ini untuk memantapkan
bahwa pengetahuan yang dibaca, minimal satu objek dibaca dua kali, inipin
diakui oleh para psikologi membaca.
4. Ayat 4
Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam
Maksudnya : Allah mengajar manusia
dengan perantaraan tulis baca. Allah menciptakan alam untuk dijadikan pena, dan
memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan pena tersebut.
5. Ayat 5
Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Dengan adanya baca tulis manusia
berkembang ilmu pengetahunnya, agar dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya .
Secara global Lima ayat yang telah
lewat menunjukkan keutamaan membaca, menulis dan ilmu.
Demi Allah, jika tidaklah karena qolam
(pena) niscaya kemu tidak akan mendapat ilmu, dan tidak dapat mengendalikan
bala tentara, agamapun akan terbengkalai, orang yang akhir tidak dapat
mengetahui keadaan orang yang terdahulu dari segi keilmuannya, pekerjaannya dan
bidang-bidangnya. Dan ketika semua keadaan orang yang terdahulu sudah
terbukukan baik yang baik maupun yang buruk, niscaya ilmu mereka menjadi pelita
yang memberikan petunjuk bagi pereode berikutnya, dan menjadi tempat tolak
untuk kemajuan kaum berikutnya dan kemajuan segala bidang.
Begitu juga ayat ini menjadi
pengingat bahwa Allah telah menjadikan manusia hidup, bisa berfikir dari yang
sebelumnya tidak hidup dan tidak berfikir, tidak berbentuk dan tidak mempunyai
rupa, kemudian Allah mengajarkan hal penting yaitu tulisan dan pengetahuan
tentang segala sesuatu, betapa celakanya bagi orang-orang yang lalai tentang
hal ini.
AL-GHOSYIYAH
أَفَلَا
يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ
رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ
سُطِحَتْ (20) [الغاشية/17-20]
A. TERJEMAH
17. Maka Apakah
mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,
18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
B. ASBABUN NUZUL
Dalam suatu riwayat dikukakan bahwa
ketika Allah menggambarkan ciri-ciri surga, kaum yang sesat merasa heran, maka
Allah menurunkan ayat ini sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan
keajaiban Allah.
C. TAFSIR MUFRODAT
Penggunaan kata إِلَى
: kepada, yang digandeng
dengan kata يَنْظُرُونَ : melihat, atau memerintahkan untuk mendorong sietiap orang
melihat sampai batas akhir yang ditunjuk oleh kata إلى, masing-masing dalam hal ini adalah unta, langit, pegunungan
dan bumi sehingga pandangan perhatian benar-benar menyeluruh, sempurna dan
mantap agar dapat menarik darinya sebanyak mungkin bukti tentang kekuasaan
Allah dan kehebatan Ciptaan-Nya.
D. PENJELASAN
Dalam tafsir al-Muntakhob yang
disusun oleh satu tim yang terdiri dari beberapa pakar Mesir, ayat-ayat diatas
dikomentari antara lain sebagai berikut: Penciptaan unta yang sangat sungguh
luar biasa menunjukkan kekuasaan Allah dan merupakan suatu yang perlu ktia
renungkan. Dari bentuk lahirnya, seperti kita ketahui, untuk benar-benar
memiliki potensi untuk menjadi kendaraan di wilayah gurun pasir. Matanya
terletak pada bagian kepala yang agak tinggi dan agak ke belakang, ditambah
dengan dua lapis bulu mata yang melindunginya dari pasir dan kotoran. Begitu
pula dua lubang hidung dan telinga yang dikelilingi dengan rambut yang maksud
yang sama. Maka apabila badai pasir bertiup kencang, kedua lubang hidung itu
akan tertutup dan kedua telinganya akan melipat ke tubuhnya, meski bentuknya
kecil dan hampir tak terlihat. Sedangkan kakinya yang panjang adalah untuk
membantu memperepat gerakannya, seimbang dengan lehernya yang panjang
pula. Telapak kakinya yang sangat lebar seperti sepatu berguna untuk
memudahkannya dalam berjalan di atas pasir yang lembut. Unta juga mempunyai
daging yang tebal di bawah dadanya dan bantalan-bantalan pada persendian
kakinya yang memungkinkannya untuk duduk di atas tanah yang keras dan panas.
Pada sisi ekornya yang panjang terdapat bulu yang melindungi bagian belakang
yang lembut dari segala macam kotoran.
E. KESIMPULAN
Telah kita ketahui bersama, bahwa
perbincangan sejak permulaan surah ini, bertujuan menegaskan tentang tujuan
akhirat, serta apa saja yang berkaitan dengan manusia pada hari kiamat.
Tentunya diantara orang-orang yang kepada mereka ayat-ayat ini ditujukan,
terdapat pula para pengingkar yang menyangkalnya. Tetapi ada pula yang mengakui
(kebenaranya) namun tetap dalam keadaan lalai, tidak melihat kemasa depan,
tempat tujuan akhir yang akan mereka datangi. Maka Allah swt ingin menegakkan
Hujjah-Nya terhadap mereka, serta mamperingatkan mereka dengan cara-cara
menarik perhatian mereka, agar bersedia mengamati kuasa-Nya yang nyata diantara
mereka, terutama yang berkaitan dengan ciptan-Nya yang dapat mereka saksikan
setiap saat.
Nilai-Nilai Pendidikan dari ayat ini :
- Siswa harus diperkenalkandahulu dengan lingkungan yang terdekat dan penting bagi mereka
- Pengetahuan dan penguasaan alam harus mengarah kepada keimanan
- Tugas guru membimbing bukan memaksa
- Materi pendidikan yang sebenarnya ayat-ayat Allah baik yang tersirat maupun yang tersurat.
AR-RAHMAN 33
يَا
مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ (33)
[الرحمن/33]
33. Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan.
A. TAFSIR MUFRODAT.
|
فَانْفُذُوا
|
:
|
(maka lintasilah) Tembuslah ke penjuru langit dan
bumi dan lepaskan dirimu, dikatakan tembusnya sesuatu dari sesuatu yang
lain, ketika sesuatu itu dilepaskan seperti melepaskan anak panah.
|
|
لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
|
:
|
(Dan kamu tidak mampu menembusnya kecuali dengan
kekuatan) mereka tidak mampu untuk menembusnya kecuali dengan kekuatan dan
mereka tidak kuasa.
|
B. PENJELASAN.
Allah memerintahkan kepada golongan
jin dan manusia untuk menembus (melintasi) ke penjuru langit dan bumi, arti
perintah Allah ini hanya sekedar tantangan Allah untuk menguji dan melemahkan
jin dan manusia. Jika mereka kuasan untuk keluar penjuru langit dan bumi dan
semacamnya itu hanya ketentuan dan kekuasaan dari Allah S.W.T.
Mereka pun tidak mampu menembus
(melintasi) kecuali dengan kekuatan, dan mereka tidak mempunyai kekuatan untuk
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi dan juga mereka tidak kuasa.
Dan yang dimaksud سلطان di sini adalah Dzat yang mempunyai kekuatan dan menguasai untuk
memerintah.
C. KESIMPULAN.
Allah memerintahkan kepada golongan
jin dan manusia untuk menembus (melintasi) langit dan bumi tetapi mereka tidak
mampu kecuali dengan kekuatan.
SURAT AL-FATIR 27&28
أَلَمْ
تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ
مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ
وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28) [فاطر/27، 28]
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan
hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka
macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah
yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
28. Dan
demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan
binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
A. Tafsir mufrodat :
|
أَلَمْ
تَرَ
|
:
|
(tidakkah kamu melihat) firman ini ditujukan kepada
Rosululloh dan kepada orang-orang yang berbuat baik kepada Rosululloh.
|
|
مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهَا
|
:
|
(yang beraneka macam jenisnya) merupakan sifat
buah-buahan, maksudnya ألوانها yaitu berjenis-jenis dan berkelompok, sebagian dari alwan
itu ada yang putih, merah, kuning, hijau dan hitam.
|
|
مُخْتَلِفٌ
|
:
|
(bermacam-macam) sebagian dari macam-macam warnanya
itu ada merah, hitam, putih, hijau dan kuning.
Imam farro’ bekata : arti مختلف menjadikan bermacam-macam warna seperti perbedaannya warna
buah dan gunung, sesungguhnya Allah S.W.T. menyebutkan segala sesuatu itu
mempunyai perbedaan warna karena sesungguhnya perbedaan ini sebagai bukti
keagungan, keadilan atas kekuasaan Allah dan bukti atas keindahan ciptaan
Allah S.W.T.
|
|
الْعُلَمَاءُ
|
:
|
(Ulama) orang-orang yang mengetahui kebesaran dan
kekuasaan Allah,
|
B. PENJELASAN.
Dalam firman Allah ini, Allah
mengingatkan kepada Rosululloh dan juga kepada orang yang berbuat baik kepada
Rosul ( umata manusia ) bahwa Allah telah menurunkan hujan dari langit yang
dengan hujan itu dapat mengahsilkan buah-buahan yang beraneka macam jenis dan
kelompoknya, juga bermacam-macam warnanya antara lian putih, merah, kuning,
hijau dan hitam. Selain itu Allah juga menjadikan gunung-gunung yang antara
gunung-gunung itu ada garis-garis putih yang beraneka macam warnanya ada pula
yang hitam pekat.
Imam Jauhari mengatakan : hitam
pekat artinya warna yang sangat hitam.
Firman Allah S.W.T. : dan demikian
pula diantara manusia, binatang melata dan ternak itu bermacam-macam warna dan
jenisnya, sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dengan bermacam-macam
warna dan berbeda-beda jenisnya, hal ini Allah ingin menunjukkan bukti sebagai
keagungan, keadilan atas kekuasaan dan keindahan ciptaannya.
Dan ulama yang dapat mengetahui
kebesaran dan kekuasaan Allah S.W.T.
C. KESIMPULAN
Dari ayat 27 dan 28 tersebut dapat disimpulkan sebagai
berikut:
- Tanda-tanda kekuasaan Allah ialah diturunkannya hujan, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam.
- Demikian juga manusia, binatang-binatang diciptakan Allah bermacam-macam warna jenisnya sebagai tanda kekuasaanNya.
- Yang benar-benar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan mentaatinya hanyalah ulama, yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam kebesaran Allah. Dia Maha Perkasa menindak orang-orang kafir, Maha Pengampun kepada hamba-hambanya yang beriman dan taat.
AL-MUJADALAH 11
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ
فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ
اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11) [المجادلة/11]
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan
kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
A. TAFSIR MUFRODAT
|
تَفَسَّحُوا
|
:
|
Maksudnya
adalah توسعوا yaitu saling meluaskan dan mempersilahkan.
|
|
يَفْسَحِ
|
:
|
Maksudnya
Allah akan melapangkan rahmat dan rizki bagi mereka.
|
|
فَانْشُزُوا
|
:
|
Maksudnya
saling merendahkan hati untuk memberi kesempatan kepada setiap orang yang
datang.
|
|
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ
|
Allah akan
mengangkat derajat mereka yang telah memuliakan dan memiliki ilmu di akhirat
pada tempat yang khusus sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian derajatnya.
|
B. ASBABUN
NUZUL
Ayat ini diturunkan pada waktu
Rosululloh S.A.W. ingin memuliakan sahabat ahli perang badar dari pada sahabat
muhajirin dan anshor. Ketika Rosululloh S.A.W. duduk di tempat yang sempit
beliau ingin memuliakan sahabat ahli badar, maka datanglah sahabat ahli badar
tersebut saling berdesakan dan berdiri di hadapan beliau sambil menanti
kelapangan majlis (tempat duduk), Rosululloh memerintahkan sahabat yang bukan
ahli badar yang berada disampingnya untuk berdiri.
C. PENJELASAN.
Dari ayat
tersebut dapat diketahui, hal sebagai berikut:
Pertama : Bahwa para sahabat
berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah saw,
dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah saw. Yang
diyakini bahwa dalam wejangannya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta
keistimewaan yang agung.
Kedua : Bahwa perintah untuk saling
meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan
dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara demikian
dapat menimbulkan keakraban diantara sesama orang yang berada di dalam majelis
dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah saw.
Ketiga : Bahwa pada setiap orang
yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan
dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan akhirat.2
Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam
mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap
orang Islam. Atas dasar inilah Rasulullah saw, menegaskan bahwa Allah akan
selalu menolong hambanya, selama hamba tersebut selalu menolong sesama
saudaranya.3
Adapun arti potongan ayat dibawah
ini adalah:
إِذَا
قِيْلَ لَكُمْ
تَفَسَّخُوْا فِيْ الْمَجَالِسِ فَافْسَخُوْا
Maksudnya adalah apabila kamu
diminta berdiri selama berada di majelis Rasulullah saw, maka segeralah
berdiri, karena Rasulullah saw terkadang mengamati keadaan setiap individu,
sehingga dapat diketahui setiap keadaan orang tersebut, atau karena Rasulullah
saw, ingin menyerahkan suatu tugas khusus yang tidak mungkin tugas tersebut
dapat dikerjakan oleh orang lain. Berhubungan dengan hal yang demikian, maka
bagi orang yang datang terdahulu di majelis tersebut tidak boleh mempersilahkan
orang yang datang belakangan untuk duduk di tempat duduknya.
Imam Malik, Bukhari, Muslim dan
Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw, bersabda: La yuqimu
al-rajulu min majlisi walakin tafassakhu wa tawassa’u. Yang artinya: seorang
tidak sepantasnya mempersilahkan tempat duduknya kepada orang lain (yang datang
belakangan). Tetapi cukup dengan memberikan kelapangan dan mempersilahkan
lewat.
يَرْفَعِ
اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا مِنْكُمْ، وَالَّذِيْنَ أُتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
maksudnya adalah bahwa Allah akan
mengangkat orang mukmin yang melaksanakan segala perintahnya dengan memberikan
kedudukan yang khusus, baik dari pahala maupun keadilan-Nya. Singkatnya bahwa
setiap orang mukmin dianjurkanagar memberikan kelapangan kepada sesama
kawannyaitu datang belakangan, atau apabila dianjurkan agar keluar meninggalkan
majelis, maka segera tinggalkanlah tempat itu, dan jangan ada prasangka bahwa
perintah tersebut akan menghilanhkan haknya. Melainkan merupakan kesempatan
yang dapat menambah kedekatan pada Tuhannya, karena Allah tidakakan
menyia-nyiakan setiap perbuatan yang dilakukan hambanya. Melainkan akan
diberikan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat.
Sedangkan potongan ayat وَاللهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ maksudnya bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan yang
baik dan buruk yang dilakukan hamba-Nya, dan akan membalasnya amal tersebut.
Orang yang baik akan di balas dengan kebaikan. Demikian pula orang yang berbuat
buruk akan dibalas buruk atau diampuni-Nya.4
Ayat tersebut diatas selanjutnya sering digunakan para ahli untuk mendorong diadakannya kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dengan cara menjunjung tinggi atau mengadakan dan menghadiri majelis ilmu. Orang yang mendapatkan ilmu itu selanjutnya akan mencapai derajat yang tinggi dari Allah.
Ayat tersebut diatas selanjutnya sering digunakan para ahli untuk mendorong diadakannya kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dengan cara menjunjung tinggi atau mengadakan dan menghadiri majelis ilmu. Orang yang mendapatkan ilmu itu selanjutnya akan mencapai derajat yang tinggi dari Allah.
D. KESIMPULAN.
1. Bersopan santun dalam menghadiri majlis rosulillah.
2. Kita dianjurkan berbuat lapang di suatu hal, maka
Allah akan melapangkan kita.
3. Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman
dan yang diberi ilmu pengetahuan.
AZ-ZUMAR 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ
الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ
وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (9) [الزمر/9]
9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih
beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan
berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.
A.TAFSIR MUFRODAT
|
هُوَ قَانِتٌ
|
:
|
مطيع, خاضع, عابد الله تعالى ( taat,
tunduk dan beribadah kepada Allah).
|
|
آنَاءَ اللَّيْلِ
|
:
|
ساعته (waktunya
bersujud dan berdiri dan mengharap rahmat Tuhannya).
|
B. MUNASABAH DAN ASBABUN NUZUL
Firman Allah أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ …
ibnu abbas berkata : dalam riwayat ‘atho ayat tersebut diturunkan pada sahabat
abu bakar as-Shidiq. Menurut ibnu ‘umar diturunkan pada sahabat Usman bin
Affan, menurut Muqotil diturunkan pada Amr bin Yasir
C. PENJELASAN
Ayat ini menerangkan
perbedaan antara orang kafir dengan orang yang selalu taat menjalankan ibadah
kepada Allah dan takut dengan siksa Akhirat yang selalu mengharapkan Rahmat
(surga).
Tidak sama antara orang
yang mempunyai ilmu pengetahuan dan mengEsakan Allah, mentaati semua perintah menjauhi
larangan-Nya, yaitu Abu Bakar dan sahabatnya, dengan orang-orang yang tidak
mempunyai ilmu pengetahuan yaitu Abu Jahal dan sahabatnya.
Ayat di atas menunjukkan
keutamaan ilmu daripada harta, karena orang yang mempunyai ilmu mengetahui
kemanfaatan harta dan orang yang tidak berilmu tidak mengetahui kemanfaatan
ilmu.
D. KESIMPULAN
1. Perbandingan orang yang
beruntung (selalu taat pada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya) dengan orang
yang rugi (kafir).
2. Tidak sama antara orang
yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan orang bodoh.
SURAT AN-NAML 40
قَالَ
الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ
يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا
مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ
فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
(40) [النمل/40]
40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI
Kitab[[2]]:
"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun
berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku
bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur
Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan
Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".
A. TAFSIR MUFRODAT
|
الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ
|
:
|
آصف بن برخياء (كاتب سليمان) أو جبريل أو
ملك آخر
|
|
طَرْفُكَ
|
:
|
ارفع بصرك وانظر مُدّ بصرك مما تقدر عليه، فإنك لا يكل
بصرك إلا وهو حاضر عندك
|
B. PENJELASAN
Nabi Sulaiman dibantu
anakbuahnya bernama Ashif bin Barkhiya yaitu seorang yang memiliki ilmu dan
hikmah. Kemampuannya memindahkan tahta kerajaan ratu Bilqis lebih cepat
daripada kemampuan jin Ifrith yang menjanjikan tahta itu pindah sebelum nabi
sulaiman berdiri dari tempat duduknya, Ashif bin Barkhiya mampu memindahkan
tahta itu hanya dalam waktu satu kedipan mata. Maka takluklah ratu Bilqis
penguasa negeri Saba’ akhirnya dia menikah dengan Nabi Sulaiman dan hidup
berbahagia hingga akhir hidupnya.
Nabi Sulaiman bersyukur
kepada Allah ketika melihat singgasana itu terletak di hadapannya.
C. KESIMPULAN :
1. Ashif bin Barkhiya
seorang yang memiliki ilmu dan hikmah.
2. Nabi sulaiman
menunjukkan karomah umatnya, supaya kaumnya tidak mengingkari terhadap umat
para Nabi yang diberi karomah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar